
Rabu, 13 Mei 2009
Met Ultah to Prasetyo
SELAMAT ULANG TAHUN PRASETYO
TETAP SEMANGAT UNTUK MEMPERJUANGKAN HIDUP DAN MASA DEPANMU AGAR BISA LEBIH BAIK.
AJAB di KICK ANDY SHOW



di acara Kick Andy Show
Enggak dinyana, ternyata merekapun bisa menampilkan eksistensinya dengan segenap kekurangan yang sempat sedikit membuat pak Agus "producernya pak Andi Noya geleng geleng. MAklum aja pak', mereka pengamen yang terkadang sedikit susah untuk ngikutin procedur tampil selain mereka juga nyalinya sempat ciut.....,tidak menjadikan suatu persoalan sesaat sampai kita bisa mengerti apa yang mereka inginkan. Menyampaikan suara hati dengan bahasa jiwa adalah kerap sulit untuk dimengerti. Bunda Reri,Bunda Lisa dan Om Andy tq abis untuk semuanya. Tak terkecuali pak Agus sang producer....maafin kita ya....,maklum kami ini terkadang memang nakal.....,sampaikan pesan kami pada beliau ya mas tedja.
Sedikit gambaran dibalik kegembiraan mereka bisa datang tampil di acara yang tidak mudah untuk ditemnbus. Apalagi keesokan harinya ternyata mereka diberi kesempatan untuk bisa main ke dufan dan ancol. Aduh jadi bejibun pengalaman menarik yang muncul dari pola tingkah lugu dan malu malu anak anak bangsa ini.
Selamat Hidup Baru

Pelaminan itu hanyalah sekotak peti sampah,tetapi ketulusan dan kesederhanaanlah yang menjadi kekuatan cinta mereka

Kue dibungkus koran yang dibeli sendiri oleh duit hasil ngamen anak anaknya

Merekapun ikut merasakan sukacita itu
di katedral Ijen Malang

Bunga itu indah saat ditaburkan dengan ketulusan

Semua ikut bahagia

Siap Menjadi Bapak Untuk Istri dan Anaknya

Hujan itu pertanda rejeki untuk mempelai

Turut menghantarkan menuju suatu langkah hidup yang sangat membahagiakan. Pasangan kakak pendamping dari anak anak terpinggirkan. Mereka menikah dengan kesederhanaan. Walau beda agama,akan tetapi dengan saling menghargai masing masing keyakinan, mereka tersatukan karena kehendak Tuhan dan restu dari orang tua dan semua anak anaknya. Pernikahan unik dan sederhana melibatkan 20 becak dan dalam keadaan hujan lebat turun menyambut mereka disepanjang perjalanan menuju tempat resepsi,menandakan alampun merestui pernikahan itu,kelimpahan rahmat dan rejeki juga mengiringinya. Dengan kursi pelaminan berupa kotak sampah dan dialasi karpet kresek sampah berikut sampahnya,dilingkari anak anaknya yang semuanya adalah pengamen dan mantan pengamen. Acara sederhana tersebut jadi sulit terlupakan dan menjadi kenangan tersendiri untuk yang menghadirinya.
Selamat dan Bahagia. Semoga kesederhanaan itu tetap mewarnai perjuangan kalian dalam menempuh hidup baru. Teriring doa dari semua anak anakmu,kakak kakakmu.

Bunga itu indah saat ditaburkan dengan ketulusan

Semua ikut bahagia

Siap Menjadi Bapak Untuk Istri dan Anaknya

Hujan itu pertanda rejeki untuk mempelai

L V , 19 April 2009
Turut menghantarkan menuju suatu langkah hidup yang sangat membahagiakan. Pasangan kakak pendamping dari anak anak terpinggirkan. Mereka menikah dengan kesederhanaan. Walau beda agama,akan tetapi dengan saling menghargai masing masing keyakinan, mereka tersatukan karena kehendak Tuhan dan restu dari orang tua dan semua anak anaknya. Pernikahan unik dan sederhana melibatkan 20 becak dan dalam keadaan hujan lebat turun menyambut mereka disepanjang perjalanan menuju tempat resepsi,menandakan alampun merestui pernikahan itu,kelimpahan rahmat dan rejeki juga mengiringinya. Dengan kursi pelaminan berupa kotak sampah dan dialasi karpet kresek sampah berikut sampahnya,dilingkari anak anaknya yang semuanya adalah pengamen dan mantan pengamen. Acara sederhana tersebut jadi sulit terlupakan dan menjadi kenangan tersendiri untuk yang menghadirinya.
Selamat dan Bahagia. Semoga kesederhanaan itu tetap mewarnai perjuangan kalian dalam menempuh hidup baru. Teriring doa dari semua anak anakmu,kakak kakakmu.
Minggu, 14 Desember 2008
Keterbatasan Diri

Keterbatasan Diri
Ag Tedja Bawana
Kesempurnaan kerap menjadikan impian dari setiap insani. Merindukan kesempurnaan dibanyak hal adalah seperti memimpikan pengharapan diatas bayangan. Ini tidak lebih karena dalam kehidupan manusia sudah diciptakan dengan segenap kekurangan yang saling terkait satu sama lain. Kehidupan tidak pernah mau berhenti untuk memulai suatu arti dari niatan atas pengharapan. Bahasa jiwa kerap tersirat lebih mulia daripada hanya sekedar bahasa teoritis yang pekat. Menerima bahwa dalam diri kita memiliki segudang kekurangan, sebenarnya adalah seperti keledai yang harus dilecut untuk mau berjalan. Manusia dengan pemikiran dan logika yang absurd, sering melupakan arti dari kemurnian jiwa untuk menerima kekurangan diri. Yang terjadi tentu sudah bisa ditebak, manusia kerap mencari dan terus berusahan berproses untuk suatu posisi baik dalam strata kehidupan. Dengan kerap mengabaikan pentingnya penghargaan atas suatu proses. Dunia kaum eksekutiv- selalu mau dipandang sebagai orang yang memiliki derajat tinggi dan patut untuk mendapat tempat layak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Dunia kaum Intelektual- selalu gila dengan teori teori yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah mau mengerti kekurangannya dalam realitas dan perbuatan yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Dunia Birokrat- selalu menggeliat dan tidak suka diperlakukan tidak seperti dewa, seperti dalam apa yang dia pikirkan. Dunia religi – selalu menciptakan aura pemikiran dengan batasan pertobatan yang sebenarnya relevan dan kerap tidak memiliki penciptaan Kasih atas kekurangan kekurangan yang dia tidak mau munculkan. Dunia benar benar dibalut dengan selimut tebal kepalsuan hakekat dan arti makna keterbatasan. Haruskah kita terkoyak diantara segudang lintasan egosentris kekurangan. Atau kita lebih membangun arti dari mengerti untuk menatap pentingnya mengerti atas keterbatasan diri….
Sebagai rekomendasi renungan konyol berbelit untuk kegilaan penggila kata kata.
Ag Tedja Bawana
Kesempurnaan kerap menjadikan impian dari setiap insani. Merindukan kesempurnaan dibanyak hal adalah seperti memimpikan pengharapan diatas bayangan. Ini tidak lebih karena dalam kehidupan manusia sudah diciptakan dengan segenap kekurangan yang saling terkait satu sama lain. Kehidupan tidak pernah mau berhenti untuk memulai suatu arti dari niatan atas pengharapan. Bahasa jiwa kerap tersirat lebih mulia daripada hanya sekedar bahasa teoritis yang pekat. Menerima bahwa dalam diri kita memiliki segudang kekurangan, sebenarnya adalah seperti keledai yang harus dilecut untuk mau berjalan. Manusia dengan pemikiran dan logika yang absurd, sering melupakan arti dari kemurnian jiwa untuk menerima kekurangan diri. Yang terjadi tentu sudah bisa ditebak, manusia kerap mencari dan terus berusahan berproses untuk suatu posisi baik dalam strata kehidupan. Dengan kerap mengabaikan pentingnya penghargaan atas suatu proses. Dunia kaum eksekutiv- selalu mau dipandang sebagai orang yang memiliki derajat tinggi dan patut untuk mendapat tempat layak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Dunia kaum Intelektual- selalu gila dengan teori teori yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah mau mengerti kekurangannya dalam realitas dan perbuatan yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Dunia Birokrat- selalu menggeliat dan tidak suka diperlakukan tidak seperti dewa, seperti dalam apa yang dia pikirkan. Dunia religi – selalu menciptakan aura pemikiran dengan batasan pertobatan yang sebenarnya relevan dan kerap tidak memiliki penciptaan Kasih atas kekurangan kekurangan yang dia tidak mau munculkan. Dunia benar benar dibalut dengan selimut tebal kepalsuan hakekat dan arti makna keterbatasan. Haruskah kita terkoyak diantara segudang lintasan egosentris kekurangan. Atau kita lebih membangun arti dari mengerti untuk menatap pentingnya mengerti atas keterbatasan diri….
Sebagai rekomendasi renungan konyol berbelit untuk kegilaan penggila kata kata.
Langganan:
Postingan (Atom)











