
Keterbatasan Diri
Ag Tedja Bawana
Kesempurnaan kerap menjadikan impian dari setiap insani. Merindukan kesempurnaan dibanyak hal adalah seperti memimpikan pengharapan diatas bayangan. Ini tidak lebih karena dalam kehidupan manusia sudah diciptakan dengan segenap kekurangan yang saling terkait satu sama lain. Kehidupan tidak pernah mau berhenti untuk memulai suatu arti dari niatan atas pengharapan. Bahasa jiwa kerap tersirat lebih mulia daripada hanya sekedar bahasa teoritis yang pekat. Menerima bahwa dalam diri kita memiliki segudang kekurangan, sebenarnya adalah seperti keledai yang harus dilecut untuk mau berjalan. Manusia dengan pemikiran dan logika yang absurd, sering melupakan arti dari kemurnian jiwa untuk menerima kekurangan diri. Yang terjadi tentu sudah bisa ditebak, manusia kerap mencari dan terus berusahan berproses untuk suatu posisi baik dalam strata kehidupan. Dengan kerap mengabaikan pentingnya penghargaan atas suatu proses. Dunia kaum eksekutiv- selalu mau dipandang sebagai orang yang memiliki derajat tinggi dan patut untuk mendapat tempat layak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Dunia kaum Intelektual- selalu gila dengan teori teori yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah mau mengerti kekurangannya dalam realitas dan perbuatan yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Dunia Birokrat- selalu menggeliat dan tidak suka diperlakukan tidak seperti dewa, seperti dalam apa yang dia pikirkan. Dunia religi – selalu menciptakan aura pemikiran dengan batasan pertobatan yang sebenarnya relevan dan kerap tidak memiliki penciptaan Kasih atas kekurangan kekurangan yang dia tidak mau munculkan. Dunia benar benar dibalut dengan selimut tebal kepalsuan hakekat dan arti makna keterbatasan. Haruskah kita terkoyak diantara segudang lintasan egosentris kekurangan. Atau kita lebih membangun arti dari mengerti untuk menatap pentingnya mengerti atas keterbatasan diri….
Sebagai rekomendasi renungan konyol berbelit untuk kegilaan penggila kata kata.
Ag Tedja Bawana
Kesempurnaan kerap menjadikan impian dari setiap insani. Merindukan kesempurnaan dibanyak hal adalah seperti memimpikan pengharapan diatas bayangan. Ini tidak lebih karena dalam kehidupan manusia sudah diciptakan dengan segenap kekurangan yang saling terkait satu sama lain. Kehidupan tidak pernah mau berhenti untuk memulai suatu arti dari niatan atas pengharapan. Bahasa jiwa kerap tersirat lebih mulia daripada hanya sekedar bahasa teoritis yang pekat. Menerima bahwa dalam diri kita memiliki segudang kekurangan, sebenarnya adalah seperti keledai yang harus dilecut untuk mau berjalan. Manusia dengan pemikiran dan logika yang absurd, sering melupakan arti dari kemurnian jiwa untuk menerima kekurangan diri. Yang terjadi tentu sudah bisa ditebak, manusia kerap mencari dan terus berusahan berproses untuk suatu posisi baik dalam strata kehidupan. Dengan kerap mengabaikan pentingnya penghargaan atas suatu proses. Dunia kaum eksekutiv- selalu mau dipandang sebagai orang yang memiliki derajat tinggi dan patut untuk mendapat tempat layak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Dunia kaum Intelektual- selalu gila dengan teori teori yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah mau mengerti kekurangannya dalam realitas dan perbuatan yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Dunia Birokrat- selalu menggeliat dan tidak suka diperlakukan tidak seperti dewa, seperti dalam apa yang dia pikirkan. Dunia religi – selalu menciptakan aura pemikiran dengan batasan pertobatan yang sebenarnya relevan dan kerap tidak memiliki penciptaan Kasih atas kekurangan kekurangan yang dia tidak mau munculkan. Dunia benar benar dibalut dengan selimut tebal kepalsuan hakekat dan arti makna keterbatasan. Haruskah kita terkoyak diantara segudang lintasan egosentris kekurangan. Atau kita lebih membangun arti dari mengerti untuk menatap pentingnya mengerti atas keterbatasan diri….
Sebagai rekomendasi renungan konyol berbelit untuk kegilaan penggila kata kata.





